Thursday, 24 November 2011

Perjalanan Kami Bertemu Fajri

Berawal dari rasa penat karena setiap hari harus menjalani rutinitas maced dijalanan ibu kota. Berangkat kantor sebelum matahari terbit, pulang setelah matahari terbenam begituuuuu terus tiap weekdays. Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan nikmatnya bekerja diluar rumah, rasa syukur itu yang menguatkan kami (saya dan suami) untuk tetap semangat.


Di perjalanan pulang kantor hari itu hari jumat (klo nggak salah) mobil jalan beruntun-runtun pelannn sekali, dipastikan kecepatannya hanya 0-5km /jam. Berbekal motivasi agar bisa menikmati perjalan pulang kantor dengan perasaan senang, suami minta saya cari channel radio yang bisa membawa kesejukan (ceramah agama misalnya, atau murotal). Alhamdulillah saya menemukannya pada frekuensi 91.3 fm, yang saat itu sedang berlangsung acara pembacaan ayat-ayat suci al-qur’an atau murotal al-qur’an (surat keberapa lupa hehe). Ternyata perasaan yang kami alami saat dalam perjalanan ditemani alunan musik berbeda dengan saat perjalanan kami ditemani bacaan ayat-ayat al-qur’an. Tenangggg dan lapangg….itu yang kami rasakan.

Hari senin berikutnya kembali ke rutinitas weekdays seperti biasanya. Berangkat kantor pagi dan pulang ba’da magrib. Bisa dipastikan dengan kondisi normal perjalanan bisa saya tempuh ±3 – 4 jam dari rumah ke kantor (gd.Cyber) PP -Suami nunggu saya di poins lebak bulus- .
Dalam perjalanan pulang hari itu saya pun mencoba mencari channel radio pada frekuensi yang minggu lalu saya dapat yaitu 91.3 fm. Ketemu yess, kali ini saya tau nama radio tersebut yaitu Fajri FM (Hellow Fajri :dance: ).
Program acara yang disajikan Fajri sangat bermanfaat banget untuk kita yang sedang mencari "Kemurnian Islam". Banyak ilmu agama yang kami dapat dari Fajri, serasa terbuka cakrawala pengetahuan islami kami. Program acara yang disajikan seperti Mutiara Hikmah, Fiqih Ringkas, Ensiklopedia Larangan, Adab Islami, Murotal dll. Alhamdulillah kami terus konsisten mendengarkan radio tersebut hingga sekarang. Saat ini Radio Fajri pindah di frekuensi 99.3 FM.

Kami berharap bisa terus konsisten dan kontinyu untuk tetap mendengarkan dan menyimak program-program acara yang ada di Radio Fajri 99.3 FM. Kami juga berharap ilmu yang sudah kami dapat melalui Fajri fm bisa kami amalkan secara kaffah. Doakan kami yah ;)


Bisa live treaming di sini loh http://fajrifm.com/

Thursday, 17 November 2011

Hampa

Pagi yang gulita
Berjuang di alam fana
Menjalani sebuah arti kata bekerja
Tanpa makna

Apa hakekat ku pagi buta
Tak memuja tak menata
Semua telah tersedia
Dan aku hampa

Yang kuingin kan hidup berguna
Tapi apa jadinya
Bila istri tak lagi ada
Kesibukan bekerja membuatnya tiada

Aku tak kuasa
Karena semua rahasiaNya
Segera hadapkan jiwa raga
Mengharap ridho yang Maha Kuasa

Mimpi-mimpi tak berani ada
Karena takut akan kecewa
Syukuri saja Nikmati saja
Hidup hanya untuk akhirat semata

*Hehehe puisi diatas adalah curahan hati istri yang bekerja diluar rumah, meskipun sudah mendapat ridho suami tapi tetap saja dia merasa bersalah karena tidak bisa mengabdikan waktunya secara penuh untuk melayani suami. Things you do on a very boring day guys...

Wednesday, 16 November 2011

Siapakah Yang Berhak Cemburu?

Setelah bertahun-tahun bersama-sama Rasulullah SAW dalam suka dan duka. Setelah peperangan demi peperangan mereka arungi sebagai wujud kesetiaan mereka terhadap Rasulullah SAW. Setelah jiwa dan hati mereka serahkan sepenuhnya untuk Allah dan Rasul-Nya.

Namun tak dinyana, hari itu seolah langit bergemuruh hebat dengan suara-suara parau yang beredar di kalangan kaum Anshar. Saat kejayaan Islam telah menggetarkan pilar-pilar kekaisaran Romawi yang berdiri kokoh waktu itu. Saat sebagian besar daerah di jazirah-jazirah arab bahkan Makkah sudah tunduk di bawah kekuasaan Islam. Sekembalinya dari perang Hunain dan Thaif, Rasulullah SAW dan para sahabatnya pulang dengan harta rampasan perang yang melimpah ruah. Tapi setelah pembagian harta rampasan selesai dibagi-bagikan, ada satu hal yang mengganjal di hati orang-orang Anshar. Para pembesar-pembesar Quraisy yang baru saja masuk Islam ketika penaklukan kota Makkah mendapat harta rampasan lebih banyak dari pada kaum Anshar bahkan dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan mereka tidak mendapat bagian sama sekali. Rasa cemburu yang dalam menyelubungi relung-relung hati kaum Anshar. Bahkan (kabarnya) sampai-sampai ada yang mengatakan, “Demi Allah, kini Rasulullah telah berjumpa kembali dengan kaumnya sendiri (orang-orang Mekkah).”

Setelah mendengar omongan miring yang beredar di kalangan Anshar, Rasulullah SAW segera meminta Sa’ad bin Ubadah mengumpulkan kaumnya di suatu tempat. Setelah kaum Anshar berkumpul, Rasul SAW yang mulia itu pun datang. Berdiri tegak di hadapan mereka. Memandang wajah-wajah teduh para sahabatnya. Setelah memuji Allah, beliau SAW pun berkata kepada seluruh kaum Anshar. Ucapan yang muncul dari hati dan jiwanya. Kalimat-kalimat yang menggetarkan tubuh orang-orang Anshar. Membuat siapa pun yang mendengar ucapan beliau SAW meneteskan air mata.
Rasulullah SAW berkata, “Wahai kaum Anshar, ucapan miring dan keberatan kalian terhadapku sudah sampai kepadaku. Bukankah dahulu aku datang kepada kalian saat kalian berada dalam kesesatan, lalu Allah memberi kalian petunjuk? Dahulu pun kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah mencukupkan (karunia-Nya) kepada kalian? Kalian pun dulunya saling bermusuhan, lalu Allah menyatukan hati kalian?”
Orang-orang Anshar pun menjawab, “Benar, hanya Allah dan Rasul-Nyalah yang paling berjasa dan lebih utama.”
Namun Rasulullah bertanya, “Kenapa kalian tidak membalas ucapanku wahai orang-orang Anshar!?”
Mereka mulai terheran-heran, mereka tidak mengerti maksud dari pertanyaan Rasulullah SAW yang seolah menantang mereka membalas ucapannya. Mereka hanya menjawab, “Dengan apa kami harus membalas (ucapanmu) wahai Rasulullah!?”

Rasulullah SAW pun berkata, “Demi Allah! Jika kalian mau, kalian pasti mengatakannya (dan membalasnya), dan apa yang kalian katakan adalah benar, dan pasti kalian juga akan dibenarkan.” (Kalian bisa saja membalasnya dengan mengatakan) “Engkau telah datang kepada kami sebagai seorang yang didustakan, lalu kami yang menolongmu (wahai Rasulullah). Engkau datang kepada kami sebagai seorang yang terusir lalu kami menampungmu. Dan Engkau pun juga datang kepada kami sebagai seorang yang miskin lalu kami menanggung semua bebanmu.”
Isak tangis mulai membahana. Air mata mengucur deras membasahi wajah dan janggut-janggut kaum Anshar. Mereka bungkam diam seribu bahasa, tak pernah menyangka Rasulullah SAW akan berkata seperti itu.

Rasulullah SAW berkata lagi, “Wahai kaum Anshar! Apakah kalian mendapatkan di dalam diri kalian (hasrat terhadap) secuil harta dunia yang telah melunakkan hati suatu kaum agar mereka masuk Islam, sedangkan kalian (sudah sejak lama) telah menyerahkan diri kepada Islam. Wahai kaum Anshar! Tidakkah kalian rela jika orang-orang pulang dengan membawa domba-domba dan onta-onta sedangkan kalian pulang dengan membawa Rasulullah ke rumah kalian? Demi (Tuhan) yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya! Andai saja bukan karena hijrah niscaya aku adalah seorang Anshar. Andaikata orang-orang memilih jalan di antara celah-celah bukit, sedangkan orang-orang Anshar memilih jalan yang lain, niscaya aku pasti memilih jalan yang ditempuh oleh orang-orang Anshar. Ya Allah, kasihilah orang-orang Anshar, anak-anak serta cucu-cucu mereka.”

Kaum Anshar tak kuasa menahan tangis. Mereka sesengukan mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari lidah Rasulullah SAW. Mereka menangis bukan hanya menyesali perbuatan mereka, mereka juga menangis bahagia. Ternyata Rasulullah SAW mencintai mereka melebihi apa yang mereka bayangkan.
Benarlah Rasulullah SAW yang mengatakan sebaik-baik kehidupan adalah periode ketika beliau diutus, kemudian periode setelahnya, kemudian abad setelahnya. (HR. Bukhari)

Dikutip dari Eramuslim

Tuesday, 15 November 2011

Huru Hara Hari Kiamat (Allaahu a'lam bis-shawaab)

 (Sumber Gambar : Eramuslim)

Suatu hari, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengabari para shahabat Radiallahu 'anhum, bahwa hari itu Israfil sudah meletakkan Sangkakala di mulutnya. Pandangannya menatap ke 'Arasy. Menunggu isyarat Allah Ta'ala kapan Hari Kehancuran akan dieksekusi. Sudah sejak Sangkakala diciptakan Israfil melakukan hal itu, tak ada yang dapat mempercepatnya, tak ada yang dapat memperlambatnya. Nabi mengabarkan, Sangkakala yang garis tengahnya seluas langit dan bumi akan ditiup tiga kali.

1.) Nafkhatul Faza' tiupan dahsyat yang pertama akan menggemparkan seluruh makhluk hidup. Allah memerintahkan Israfil memperpanjang tiupan itu tanpa henti. Maka gunung-gunung akan bergerak seperti awan, lalu luluh lantah berantakan seperti fatamorgana. Bumi berguncang hebat. Penghuninya bagai perahu dilaut lepas, dihempas ombak kian kemari. Hati manusia waktu itu sangat takut. Wanita-wanita melupakan bayi yang disusuinya. Yang hamil menggugurkan kandungannya. Anak-anak kecil langsung beruban. Milliaran manusia berlagak gagah dan jumawa panik berhamburan. Tak seorangpun bisa melindungi mereka dari adzab Allah di hari itu. Tiba-tiba bumi terbelah menjadi dua, kejadiannya amat menyengsarakan. Hanya Allah saja yang tahu penderitaan mereka. Mereka menengadah ke langit, seketika itu langit berubah menjadi seperti cairan logam lalu terbelah. Bintang-bintang berhamburan, bertubrukan, matahari dan bulan tak lagi bercahaya. Hanya orang-orang hidup yang dikehendaki Allah yang tidak terkejut oleh peristiwa dahsyat itu, yakni para syuhada yang gugur di jalan Allah. Mereka tak pernah mati disisi Allah dan terus mendapatkan rezeki.

2.) Selanjutnya, seluruh penghuni langit dan bumi dimatikan Allah dengan tiupan Sangkakala kedua, Nafkhatush Sha'iq. Lalu Jibril, lalu Mikail, lalu Israfil, lalu malaikat-malaikat pembawa 'Arasy. Yang terakhir dimatikan oleh Allah Azza wa Jalla ialah 'Izrail, malaikat maut. Maka sejak itu tak ada lagi yang hidup, kecuali Allah yang Maha Ahad, Maha Mengalahkan, Maha Sendiri, Tempat bergantung semua makhluk, Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dialah yang Maha Awal dan Maha Akhir.

3.) Dengan kekuasaan-Nya yang tak terbataskan oleh apapun, Dia menggelar Hari Pengadilan. Semua makhluk dibangkitkan dengan tiupan sangkakala ketiga, Nafkhatul Ba'ats. Tak ada naungan dan perlindungan selain dari-Nya dihari itu. Miliaran manusia - sejak Adam 'Alaihissalaam hingga manusia yang hidup terakhir kali saat langit dan bumi dihancurkan - menunggu giliran diadili satu per satu di Padang Mahsyar. Lama waktu menunggu itu 50.000 tahun Akhirat. Betapa pendeknya hidup di dunia. Dia membentak sekeras-kerasnya seraya berfirman " Wahai sekalian jin dan manusia, sesungguhnya Aku telah diam saja terhadap kamu sekalian sejak saat aku menciptakan kamu sampai hari ini. (Selama itu) Aku mendengar perkataanmu dan melihat perbuatan-perbuatanmu. Maka dengarlah, inilah catatan amalmu, dibacakan kepadamu. Barangsiapa mendapat kebaikan, maka pujilah Allah. Dan barangsiapa mendapatkan yang lain, jangan mencela selain dirinya sendiri." Semua kasus yang pernah terjadi dalam sejarah manusia diadili seadil-adilnya. Tak ada seorangpun mati terbunuh melaikan ada pembalasan bagi pembunuhnya. Tak ada seorangpun teraniaya kecuali mendapat pembalasannya. Bahkan, orang yang mencampur susu dengan air dengan sekalipun, akan dipaksa oleh-Nya untuk memurnikan susu itu dari air kembali. Sesudah semua kasus habis diselesaikan, dikumandangkanlah suatu seruan yang didengar oleh seluruh makhluk, "Hendaklah setiap penganut agama mengikuti tuhan mereka masing-masing, atau apapun yang mereka sembah selain Allah." Pada hari itu ada seorang malaikat diwujudkan seperti Uzair, lalu diikuti oleh kaum Yahudi. Malaikat lainnya diwujudkan serupa 'Isa, lalu diikuti oleh kaum Nasrani. Kemudian sesembahan yang salah itu menggiring mereka semuanya ke neraka.

"Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya." (Al-Anbiya':99)

Setelah semua penguni neraka digiring ke tempatnya, hadirlah Allah dalam wujud yang dikehendaki-Nya seraya berfirman, "Kini tinggallah Aku, sedang Aku adalah yang Maha Pengasih diantara mereka yang pengasih." Lalu segolongan demi segolongan orang dimasukkan-Nya ke dalam surga, mulai dari mereka yang dikenal oleh orang yang paling dikasihinya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, hingga orang-orang shalihin yang hidup di zaman-zaman sesudahnya. Bahkan kehendak Dia mengangkat sebagian penghuni jahannam untuk diampuni dan dipindahkan ke surga yang penuh kenikmatan, dan semua kekal di dalamnya.

*Diambil dari Hidayatullah edisi Januari 2004 dari buku "Huru-hara Hari Kiamat" karya Ibnu Katsir, ulama terkemuka yang hidup di Abad ke-8 Hijriyah, disusun dari ayat-ayat dan hadist-hadist sahih

Monday, 14 November 2011

Uang Kertas Adalah Tipu Muslihat

Minggu yang lalu Alhamdulillah saya bisa mengikuti kajian dari Forsimpta (Forum Silaturahim Masjid Perkantoran Jakarta) yang kebetulan di gedung tempat saya bekerja jadwalnya setiap hari kamis ba’da dhuhur. Hari itu kajian diisi oleh Ustadz Zaim Zaidi untuk memberikan tausiyahnya dengan topik kajian berjudul “Dinar dan Dirham” judul yang sudah familiar di telinga saya.

Tidak lama kemudian acara dimulai diawali dengan memperkenalkan narasumber kepada jama’ah oleh moderator. Awalnya saya mengikutinya dengan santai dan biasa saja, tapi tak lama selang waktu 5 menit setelah materi muncul di LCD mata saya tertuju pada kalimat “Uang Kertas adalah tipu muslihat penghisapan harta oleh segelintir rentenir atas seluruh umat manusia” “Uang kertas adalah Riba, Nasi’ah dan al-fadl sekaligus dan Haram Hukumnya”. Astagfirullah, saya terkesima membaca kalimat tersebut. Bagaimana bisa, uang kertas yang saat ini lazim kita gunakan sebagai alat transaksi dalam kegiatan sehari-hari memiliki definisi seperti dalam kalimat tersebut.

Saya-pun mengikuti kajian tersebut dengan lebih serius, dan saya juga melihat hal yang sama dengan jama’ah lain. Sebagaimana kita tahu fungsi pokok uang adalah sebagai alat tukar. Berikut saya tuliskan konsep singkat sejarah Uang Kertas sesuai informasi dalam materi kajian.

Pada zaman dahulu (bangsa arab) masyarakat masih menggunakan koin emas dan perak. Dalam jumlah banyak, koin emas dan perak membutuhkan tempat penyimpanan. Untuk memenuhi kebutuhan akan tempat penyimpanan, kemudian munculah jasa penitipan koin emas dan perak. Pemilik jasa penitipan berfungsi sebagai gudang penyimpanan koin emas. Setiap orang yang menitipkan koin emas disana akan mendapatkan kuitansi/nota yang menyatakan bahwa mereka menyimpan sekian koin emas dan dapat diambil sewaktu², tentu jasa tersebut ada biayanya. Dalam perdagangan atau transaksi pembelian barang, si pembeli hanya membawa nota/kwitansinya ke pedagang. Setelah itu pedagang menukarkan nota/kwitansi yang didapat dari hasil dagangannya ke tempat jasa penitipan dimana koin pembeli dititipkan.

Seiring berjalannya waktu, jasa penitipan koin semakin mendapat perhatian masyarakat karena dinilai lebih ringan, orang tidak perlu lagi membawa koin emasnya. Jasa penitipan koin emaspun makin banyak digemari, sehingga timbunan koin emas di gudang pemilik jasa penitipan koin semakin banyak. Dari situ hasrat ingin memperkaya diri muncul, sipemilik jasa penitipan koin mencoba mencari keuntungan lebih banyak lagi. Secara diam-diam pemilik jasa penitipan koin emas membuat nota/kwitansi tidak sebanding dengan emas yang dititipan kepadanya. 1 (satu) keping koin emas mereka terbitkan kurang lebih 10 lembar “nota/kwitansi kosong”. Usaha tersebut mudah direalisasikan mengingat jasa penitipan koin emas hanya dimonopoli oleh satu pemilik saja saat itu. Mereka mengatur sedemikian rupa supaya jumlah total nota kosong yang beredar tidak melebihi jumlah koin emas yang tidak ditarik/diambil oleh pemiliknya. Kemudian nota kosong mereka pinjamkan ke orang-orang dan tentu saja mereka menarik bunga atas pinjaman itu. Nota kosong itupun beredar layaknya nota asli.

Hingga sampai saat ini kita mengenal uang berupa kertas maupun koin (koin logam biasa). Mata uang dalam suatu Negara sebenarnya adalah hanya selembar kertas/koin biasa yang diberi nilai menjadi uang karena ada jaminan hukum dari Negara. Jika dilihat dari hakekat sistem perdagangan sendiri, dimana perdagangan memiliki pengertian dasar pertukaran barang dengan barang yang setara nilainya, maka bila diibaratkan ada seorang petani yang menjual hasil panennya dengan nilai tukar uang kertas maka petani tersebut bisa dikatakan mengalami perampokan. Belum lagi dampak inflasinya, karena nilai tukar/ kurs bersifat floating rate (tergantung pasar) otomatis hal tersebut dapat dengan mudah dimanipulasi oleh segelintir orang berduit dengan tujuan tertentu.

Jadi jika uang kertas didefinisikan seperti apa kata Ustadz Zaim Zaidi tersebut diatas, saya pribadi bisa mengerti…he..he..he..